PENGANTAR:
Mari dengan aku anak asal Alifuru.  Judul di atas bukan judul puisi karya 
Dominggus Willem Syaranamual  (Dewesy) melainkan sebuah larik pada puisinya berjudul Sumpah (Janji dengan H)

Siapakah H dalam puisi tersebut? Tidak ada narasumber yang menjelaskannya.  Akan tetapi dari isi puisi, riwayat, pelarian dan hari terakhir di rumah keluarga Malawat di Mamala, bukankah Dewesy  mempunyai dua sahabat seerat saudara? Mereka adalah Mohammad Malawat dan Hasan Malawat? Sangat mungkin H adalah Hasan. 

Sebelas puisi Dewesy ini dicari bertahun-tahun dan akhirnya terkumpul atas penelusuran pegiat literasi Adlun Fiqri dari Ternate.  Adlun mengumpulkan dari Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B, Yassin Jakarta. 

Bertepatan dengan 68 tahun Dewesy mangkat di Mamala, 22 November 1951-22 November 2019, Maluku Post memuat puisi-puisi Dewesy.  Semoga dengan ini, para muda tidak saja mengenal karya puisinya, tetapi semakin tertarik menelusuri persahabatan lintas kampung, lintas pulau, lintas agama, yang terjalin sejak masa remaja.  Persahabatan yang abadi, hanya maut yang memisahkan. 

Makam Dewesy di Negeri Mamala, adalah bukti kasih sayang orang basudara.  Tidak hanya manis dalam puisi, melainkan indah dalam kehidupan nyata. 

Beberapa ilustrasi foto untuk  puisi-puisi di sini, adalah hasil foto layar pada akun youtube Sinode GPM, yang menyiarkan pentas teater Pelarian Terakhir, yang diambil dari puisi Dewesy yang paling terkenal.  

Salam puisi!

Ambon, 22 November 2019
Redaktur/Rudi Fofid





KITA HANYA SATU

(Kepada pahlawan gugur)

I
Kamu yang dulu sudah pergi
Berhenti untuk selamanya
Dan kamu yang baru saja pergi
Pada menghilang –
Gugur terkapar berhamburan di padang-padang hijau
Di lautan-lautan biru
Atau di udara luas bebas

Di tempat manakah gerangan 
Saudaramu – ibu bapakmu – atau kekasihmu
Yang  telah seia melepaskan kamu untuk rela berjuang
Nanti dapat hamburkan segenggam bunga
Sebagai rempah pada gumpalan dagingmu
Yang telah punah meresap tanah
Mereka kan tanya sana … tanya sini …

Daun-daun hijau di sisi jalan sunyi
Yang pernah disiram pancuran darahmu
Pasti akan basah lagi oleh disiram air mata kesatria
Dari segala kekasih-kekasihmu
Yang tangisi kau karena baktimu
Waktu  kau berdegap hati-maju menyerbu
Dengar, dengarkanlah!
Mereka tanya sana… tanya sini …
Mereka ingin punya baktimu

II
Tapi dengar, dengarkanlah lagi ………
Satu saja telah tinggal keyakinan kita
Kamu telah turuti jejak datuk-datuk kita
Yang telah dilebur tanah berabad-abad lalu
Kamu semua telah gugur karena ini jiwa merdeka
Kamu  semua telah dibawa angin
Di malam mendung dari cuaca bulan suram

Terlihat kamu terbaring di sisi datuk-datuk kita 
Yang telah dilebur tanah berabad-abad lalu
Yang barangkali tulang-tulangnya dapat kamu jumpai satu-satu
Dalam liang tanah


III
Kamu ini dan datuk-datuk kita itu hanya satu
Kita yang tinggal dengan kamu juga  satu
Sama-sama kita berjuang
Sama-sama kita berkayuh
Sama-sama kita pegang tangkai dayung
Kita cari itu pulau.

Biarpun kamu pada menghilang
Tapi kita yang tinggal terus berjuang
Mendekatkan jarak ini yang sudah kita
sama dekatkan
Biar bagaimana pula juga kita tidak akan berdiam
Kepada anak-anak dari kamu yang sudah pergi 
Dan dari kita yang masih tinggal
Kita akan tutur ini sejarah
Kita akan ajar dia pegang tangkai dayung
Biking tutup ini jarak

Kamu pergi pada menghilang
Ikut tapak datuk-datuk kita
Kita yang tinggal akan berziarah setiap tahun –
Menghambur bunga
Kita akan pegang terus pegang tangkai dayung

Kita cari itu pulau

Ambon, Februari 1949



SAJAK DARI RIWAYAT SEORANG KAWAN

Sudah dapat kini aku ramalkan
Sampai di mana istilah persembunyian
Kita sebagai kawan
Tetap hidup bertolak belakang
Pada awal dan akhir keji yang kau kejar

Biar bapak-bapak kita bicara bangga
Sumpah dan kutuki anak sekarang 
Persembunyian
Membawa sinar keonaran

Lukisan yang baru kau goreskan
Semata alat persembunyian rahasia mukamu
Tabir tidak akan tembus
Kalau bukan kau anak jahanam

Sinar dari timur
Tidak akan  lagi bawa kegemaran
Karena telah putuslah tali-tali tautan peradaban
Kau pergi
Kau membelakangi hidup orang dewasa                                                                                                                                          
Ambon, 31 Januari 1950


MUSIM CENGKIH

Kawan, kalau musim cengkih sudah tiba
Apakah lagi yang akan dinantikan?
Sesama angin lalu di dalam hutan-hutan cengkih
Akan berkumandang bunyi tifa berbalas-balasan
Dengan lagu dendang beramai-ramai

Biarlah sekarang
Segala cemooh yang tak tentu arahnya
Beralun dulu, tertawa sama unggas hutan
Menunggu masa datangnya  pertukaran
Di mana do akan menjadi sol

Sehingga mengatasi segala perbauran irama  sekarang
Inilah musim cengkih  

Kawan, mari bersama aku
Kita perbaiki segala kulit tifa yang sudah lapuk
Kasih dia tegang mungkin

Menunggu ini masa yang sudah membayang
Pada perhitungan bulan dan cerita orang sekarang
Bahwa panen cengkih ada harapan.

Kawan,  kalau musim cengkih sudah tiba
Apakah yang akan dinantikan!
Mari kita sama-sama naik ke hutan
Menurutkan orang banyak itu
Di dalam bising suara unggas

Ayo mari  kita ke sana!
Beta pukul tifa 
Kawan angkat pantun
Kita sama-sama Tata Job berdendang:
Hai jujaro dan mungare
Mari sama-sama kita, pata cengkih

Ambon, Januari 1949



SURAT DARI LAUT

Maka pada musim pancaroba yang begini geram
Berhembus datang dari segala awal kelahiran angin
Angin sepoi-sepoi basah
Angin tofan-tofan muda
Dia datang dan pergi
Tidak pakai satu jarak waktu

Maka aku masih terus terkantung di laut
Menghitung-hitung ombak
Dengan sepuluh jari hidupku 
Mana nanti aku titi dalam kepanjangan usiaku

Maka bersama-sama nyanyi burung camar
Pada pagi samar-samar dan di senja yang mau berlalu
Aku gores dalam buku catatanku:
‘’Aku telah tambah satu hari lagi di laut”

Kini sudah berapa lamakah aku di laut
Aku tidak tau
Kamu tidak tau
Karena musim sudah buta
Hanya aku sudah lama berlayar
Dari pulau datang ke pulau
Dari  laut datang ke laut

Maka sekarang sudah  tinggal  beberapa tanggal saja lagi
Dari ini bulan sial
Ini masa pancaroba akan berlalu
Akan datang angin musim - angin datang dari buritan

Maka dalam mimpiku tadi di siang hari
Ada kulihat tangan-tanganmu menjemput aku
Tapi belum habis khayalku ini
Aku sudah terjaga oleh gedebur layar tidak berangin

Maka hingga di sinilah
Aku akhirkan ini surat dari laut
Keganti diriku yang bakal berjumpa

Kepada ibuku
Kepada bapakku                                                                                            
Kepada kekasihku      
                                                                                  
Dari laut
Dari aku pemuda pelayar 

Ambon, Maret 1949 



JANJI TERAKHIR

Bagi kita anak kembara yang kini bertebaran
Di antara dua dunia penuh kekeringan
Tiap hari di tengah kelesuan panas menyesakkan dada
Tunduk kepala berteriak:
Tuhan! Tuhan!
Kita anak-anak manusia minta penjelasan
Lepas dari laut terik hari.

Ada kita dengar suara Tuhan bilang pada Adam
“di mana kau ada?”
Tapi yah – manusia-manusia pada telanjang
Sudah lari bersembunyi di balik pohon dan
Belukar kehausan air
Meski semua dapat diterangi oleh bulatan caya
Yang kini merendang kepala botak 

Pada akhirnya kita anak kembara sekarang harus
Terus membara
Kita minum peluh
Kita minum darah
Kita harus bercampur dengan debu musim kering
Kita jadi bangkai
Kita jadi debu
Sampai datang hari kiamat.

Kita sekarang sudah tambah langgar janji  Tuhan
Sebab ini musim sudah jadi musim orang gila
Biar kita akan terus mengembara lama-lama
Kita toh akan jadi seperti cerita Lahmu’ddin dari Kufa
Dengan teka-teki kembara:

Aku mengenderai bapakku
Aku mengenakan ibuku
Aku makan yang hidup dari yang mati
Aku minum air bukan turun dari langt
Atau berasal dari bumi
Akhirnya Mu’ddin kawin putri raja.

Bagi kita anak kembara yang kini betembaran
Di antara dua dunia penuh kekeringan
Inilah amanat wasiat dari ibu bapak kita
Terpencil ke hutan kering atau padang tandus kepanasan
Kita akan membaca itu sebagai jampi
Terhanyut ke laut, bebas dari angin
Kita akan berkomat-kamit  membacanya bersama
Ciut-ciut kegelisahan

Inilah pedomana kita anak kembara
Tunduk kepala minta penyelesaian dari Tuhan
Kita tidak berani lagi langgar amanat
Dari bu bapak kita yang sudah mati lepas dari ini masa kekeringan

Mengembara hingga kapan datangnya masanya
Biar sampai hari kiamat.

Ambon, April 1949


SUMPAH

(Janji dengan H)

Saudara,
Tidak ada kini tangan yang membeku
Dari tingkat-tingkat hitungan ilmu pisah

Jarak sudah mati
Sudah mati pada sumpah kita sendiri
Dan berilah deru bayu lalu
Bawa butir-butir air tawar
Ke dalam unggun yang masih nyala

Aku yang anak desa tersendiri
Sekarang sudah punah hidup
Makan sama-sama dari satu pinggan yang belum bersih dicuci
Selesailah satu sumpah hari akhir

Saudara,
Kau yang hidup dekat api, dekat rumah orang buangan
Mari dengan aku anak asal Alifuru
Makan sumpah cara Alifuru
Lalu kita makan sirih - tikam tombak
Kita dua ambil parang dan salawaku
Kita dua cakalele
Lanjutkan sumpah hari akhir

Ambon, Agustus 1949



PASANG SURUT

Kalau pasang sudah surut dan
Tersembul naik serba batu laut kekeringan
Aku serahkan diriku pada musim
Hendak melihat daunan kuning gugur berhamburan
Dan beri tanda pada tonggak merah di sisi jalan

Orang tidak lagi akan membawa kereta
Lari dari dua musim percabulan
Hanya beri tangan ‘nunjuk pada jalan
Atau pinta doa pada Tuhan

Perempuan yang sudah hamil atas jalan tidak halal
Akan pikir kutukan dari Tuhan
Takut tidak akan melihat jalan menurun
Meninggalkan hidup pegunungan

Kalau pasang sudah surut
Dan tersembul batu-batu kekeringan penuh lumut
Jangan ada lagi gadis perawan menadah tangan
Tapi pintalah pedoman
Janganlah sekali-kali kita jadi anjing kelaparan 

Ambon, Agustus 1949




KETINGGALAN

I
Hari ini
Dan boleh jadi besok lagi
Aku tetap ketinggalan
Karena malam tadi
Aku kasip waktu
Sebab itu lonceng di dinding
Tidak berdetak lagi
Dan bintang pemberi pedoman
Ditutupi awan

II
Ada suara di jauhan
Memanggil-manggil aku
Dengan kata: KEMARI!
Serta laut lepas di hadapanku
Dan alunan ombak melambai aku
Tapi deru mesin
Dari itu perahu motor
Sudah sayup-sayup ke telingaku

III
Aku ingin lari berlepas diri
Dari ini tautan rantai
Pusaka peninggalan nenek-nenek
Dan ayahku juga
Tapi ada anjing garang di sisiku
Menyalak-nyalak aku

IV
Apakah nanti orang bilang
Dan ejekan mengiring aku
Sekiranya mereka tidak tahu
Ini angin sakal sedang bertiup
Dan kawal penggiring tetap di sisiku?

Ambon, 1948


BERPISAH

Belum melalui satu lapisan hari
Kita berpegang tangan di liku jalan menuju keonaran
Kita berpisah-kita berpisah
Kita tanam tonggak peringatan
Dekat kubur-kubur anak pahlawan

Badan yang kuyup peluh
Bekas jalannya derita perpisahan
Mari sobek ini keonaran
Bawa dengan ini pernyataan perpisahan

Tetapi,
Lagi aku tanam kegemaran
Teriakan, teriakan
Lenyapnya hidup keonaran
Pada persimpangan jalan anak jalanan.

Ambon, Awal Januari 1950



PELARIAN TERAKHIR

Baru saja terang membenam hari
Membayang lagi mega merah asap kebakaran
Membawa makluk lari berlepas diri
Pilih ! Mati atau hidup

Di sini masih ada orang kuat lari
Berlomba dengan maut
Sedang aku berharap dengan laut

Aku turun ke laut
Tapi bukan anak laut

Aku mau tamatkan ini lembaran
Dalam kelam hari, biar dengan pedoman
Pada hanya sebuah bintang
Yang lagi bercahaya
                   
Orang berlomba
Aku berlomba
Aku membuat satu pelarian terakhir

Ambon, 1950




LEPAS

Kalau tubuh kedulian ini
Telah kaku melumpuh di bawah longgokan tanah, biarlah
Tetapi sekiranya masih mengalir darah merahku
Berdenyut menurutkan gerakan jantungku
Aku masih ingin lepas
Entah kemana . . .

Padakau tak ada perbatasannya
Asallah hidup yang sesat ini aku lompati
Pernah pada emosiku pernah mengalir janji-janjiku
Yang menggambarkan lompatan ketegangan jiwaku:
Aku ingin mengembara
Cari duniaku sendiri

Gunung-gunung biru dan laut lepas-bebas
Ke mana tempat aku ini mengarung cari itu lepasan
Pada nanti menjadi saksiku
Dan deritaku sekarang ini
Biarlah mengenang dunia yang kini aku jejaki
Dengan segala kejalangannya

Nanti …
Kalau padaku Tuhan ada lanjutkan denyut jantungku
Aku harus saja lepas
Entah ke mana . . .
Padaku tak ada perbatasannya

Ambon, Februari 1949

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top