Sejumlah aktivis PMKRI di Ambon membentangkan spanduk dengan hastag #wiranto pada saat aksi pengumpulan dana di Tugu Trikora Ambon, Selasa (1/10), untuk disalurkan kepada para pengungsi korban gempa.  (foto pmkri)
Laporan Rudi Fofid-Ambon

Ambon, Malukupost.com - Menkopolhukam Wiranto dinilai lancang bicara tidak sopan bagi orang Maluku yang sedang dilanda cemas, takut, dan berduka.  Ucapannya yang menyebut pengungsi menjadi beban pemerintah, dianggap tidak santun sebagai pejabat publik kepada para korban gempa 6.8 SR di Ambon, Maluku Tengah, dan Seram Bagian Barat, sejak 26 September 2019.

Demikian pernyataan Ketua Presidium DPC PMKRI Cabang Sanctus Fransiscus Xaverius Ambon Urbanus Metintomwat dan Presidium Gerakan Kemasyarakatan Delvis Rettob kepada Media Online Maluku Post di usai menggelar aksi pengumpulan dana bagi korban gempa, di Sekretariat PMKRI Ambon, Selasa (1/10).  Kedua pentolan PMKRI Ambon ini mengaku mendengar banyak orang di Maluku kecewa dan marah membaca pernyataan Wiranto.

Urbanus Metintomwat mengemukakan, ucapan Wiranto telah mengkhianati hakikat kehidupan berbangsa dan bernegara.  Sambil mengutip pembukaan UUD 1945, Urbanus menyatakan negara harus hadir melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, termasuk para korban gempa, dan pengungsi di Maluku.

“Dalam peristiwa Gempa Ambon, sangatlah wajar jiwa banyak warga meninggalkan rumah karena takut pada kejadian nyata, maupun menjadi korban hoaks, dan ramalan yang muncul di tengah gempa,” kata Urbanus.

Sementara itu, di tempat yang sama, Delvis Rettob menyatakan, ucapan Wiranto yang menyebut pengungsi sebagai beban pemerintah, menjadi penanda bahwa Wiranto tidak punya rasa krisis terhadap bencana.

“Korban itu konkrit, setidaknya 30 orang meninggal dunia, puluhan luka berat dan luka ringan, ratusan rumah hancur akibat gempa.  Selain itu,  rasa takut dan trauma adalah sesuatu yang sangat manusiawi dan asasi.  Menyesal bahwa Pak Wiranto sudah mati rasa soal kemanusiaan,” kata Rettob.

Terhadap ucapan Wiranto yang dinilai tidak manusiawi, Urbanus dan Rettob mendesak Wiranto mencabut pernyataannya, mengaku bersalah, dan meminta maaf kepada masyarakat Maluku, khususnya para korban dan pengungsi.

Keduanya mendesak Wiranto mundur dari jabatan menteri karena tidak sopan,  lancang, dan mati rasa kemanusiaan.  Selain itu, Presiden Jokowi diminta tidak lagi menyertakan Wiranto dalam kabinet mendatang karena cacat dan gagal menjadi Menkopolhukam. 

Pantauan Maluku Post di media sosial, ucapan Wiranto telah menuai kritik, protes, dan kecaman berbagai kalangan di Maluku.  Sejumlah wartawan, dosen, dan para aktivis memprotes ucapan tersebut.  Ada yang menyindir Wiranto secara ringan, namun ada yang sangat serius.

Penyair Eko Saputra Poceratu menulis pada akun facebooknya tanpa menyebut nama Wiranto.  “Relakan masa lalu, pak, biar tidak jadi beban.”

Jurnalis bernama Virgo juga menulis di facebook dengan kalimat pendek. ‘’Ayo, tagarkan. #CopotWirantoSekarangJuga”.

Aktivis mahasiswa Halikisme Rahantan menulis pada akun facebook dengan huruf kapital. “BETA ANAK MALUKU. MUKA KARAS SEPERTI SAGU. WIRANTO KO JANG COBA COBA DENG KATONG ANAK MALUKU. KATONG SENG MAU INDONESIA ADA KONGSI KONGSI. Katong satu  (simbol bendera merah putih, red).

Sastrawan Dino Umahuk menyindir dengan logat Ambon pada akun facebooknya.  “beta minta bae" kamong pulang ka rumah jua kamong su jadi beban for negara ini sio kasiang negara seng pung kepeng for urus kamong”.

Pernyataan Wiranto disampaikan di kantor Menkopolhukam Jakarta, Senin (30/9).   "Kalau jumlah pengungsi besar, itu justru akan membebani pemerintah pusat dan daerah,"  kata Wiranto sebagaimana disiarkan Kumparan.com.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy kepada wartawan di Ambon, Selasa (1/10) mengaku malu dengan pernyataan Wiranto.

“Pernyataan itu memang sangat halus, namun kata-kata itu sangat menusuk.  Itu kan halus tapi sangat menyakiti betul,” kata Louhenapessy sebagaimana disiarkan Info Ambon. (Maluku Post)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top