Catatan Rudi Fofid-Ambon


Ambon, Malukupost.com - Tahun ini, SEA Games XXX akan berlangsung di Filipina lagi. Pesta olahraga paling menggetarkan di Asia Tenggara akan menyuguhkan sejarahnya.  Semua berlomba dan bertanding dalam semangat menjadi tercepat, tertinggi, terkuat.

Untuk mencapai prestasi itulah, semua atlet berjuang keras, mulai dari masa-masa latihan sampai ke arena pertandingan dan perlombaan.  Atlet Indonesia tentu ingin mengumandangkan Indonesia Raya, dan melihat Merah Putih berkibar.

Setiap SEA Games punya sejarah dan kenangan tersendiri.  Begitu juga dengan SEA Games di Filipina. Atlet-atlet Indonesia punya pengalaman manis dan pahit.   Dua atlet Indonesia asal Maluku, juga punya pengalaman spektakuler pada kurun waktu yang berbeda, di Manila.

Drama dua perempuan Maluku ini bisa dimulai dari program Pemerintahan Marcos bernama Gintong Alay, semacam pemusatan latihan nasional untuk melahirkan atlet kelas dunia.  Pelari cantik Lydia de Vega, adalah salah satu hasil binaan Program Gintong Alay.

SEA Games XI di Manila, 6-15 Desember 1981 adalah salah satu ajang pembuktian bagi para penghuni Gintong Alay.   Pada saat yang sama, Nona Manis asal Haria Saparua Merry Manuhutu sedang berada di puncak kejayaan.   Dia menjadi ratu atletik Indonesia nomor jarak menengah 800 meter. 

Saat itu, Merry Manuhutu ditargetkan PB PASI maupun keinginan pribadi untuk memecahkan rekor SEA Games maupun rekor nasional.  Maka tibalah saatnya, babak final lari 800 meter puteri.  Ada delapan pelari, termasuk dua pelari Filipina.

Publik Indonesia termasuk di Maluku berdebar menyaksikan babak final, yang disiarkan oleh satu-satunya stasiun televisi di tanah air yakni TVRI.  Dalam siaran itu terlihat Merry memimpin di depan pada empat ratus meter pertama. 

Ketika menempuh lintasan lurus dan hampir menyelesaikan jarak 500 meter, terlihat dalam gerakan lambat, dua pelari Filipina antara lain Lucena Alam dan seorang rekannya menghimpit Merry.  Akibat terinjak, Merry langsung terjatuh di lintasan. 

Drama dimulai.  Merry yang jatuh telungkup, masih sanggup mengangkat kepala.  Dengan wajah pedih perih, Ia melihat tujuh pelari sudah melewati tikungan lintasan 600 meter.  Merry tertinggal sendirian sekitar 50 meter di belakang.

Tiba-tiba Merry bangkit berdiri, langsung mengejar.  Ia melewati pelari ketujuh, keenam, kelima, dan keempat.  Merry masuk finis di tempat ketiga.  Medali emas 800 meter  direbut pelari Malaysia Vengadasalam Angamah dengan catatan waktu 2:11,18.  Medali perak diraih Lucena Alam, dan Merry meraih perunggu.

Indonesia tetap menjadi juara umum di SEA Games XI Manila 1981. Jumlah medali emas 73, perak 56, dan perunggu 67 keping.  Satu di antara 67 perunggu itulah kontribusi Merry.

"Perunggu itu, akang rasa emas," kata Merry tentang peristiwa itu saat cuti ke kampung halaman di Saparua.

MARIA LAWALATA
Sepuluh tahun setelah "kasus Manila 1981", SEA Games kembali digelar di ibukota Filipina.  Jika sebelumnya Filipina dipimpin Presiden Ferdinand Marcos maka tahun 1991, Corazon Aquino sudah menjabat presiden.  Ia memberi perhatian kepada dunia olahraga.  Bahkan ketika Lydia de Vega dicoret dari kontingen SEA Games, Aquino turun tangan sehingga de Vega bisa tampil.

Drama Manila kembali terjadi.  Kali ini, persaingan menjadi juara umum antara Filipina dan Indonesia.  Menjelang detik-detik terakhir upacara penutupan, tuan rumah Filipina dan Indonesia memperoleh sama-sama mengoleksi medali emas sebanyak 91 keping.

Penentuan juara umum bukan ditentukan dengan menghitung nilai seluruh medali, melainkan jumlah medali emas terbanyak.  Justru saat itulah,  semua menunggu, kejutan apa yang akan terjadi.

Hari itu, Kamis 5 Desember petang. Semua kontingen peserta SEA Games sudah memenuhi stadion utama Rizal Memorial di Manila termasuk Presiden Aquino.

TVRI menyiarkan detik-detik mendebarkan.  Medali terakhir yang sedang ditunggu adalah lari maraton puteri, melintasi jalan raya Metro Manila. 

Semua mata tertuju ke pintu masuk, manakala suara membahana melalui pengeras suara.  Maria Lawalata dari Indonesia.  Maria menjadi satu-satunya pelari yang masuk garis finis .  Stadion Rizal Memorial  bergemuruh.  Seorang perempuan Indonesia asal Maluku menjadi pahlawan penentu kemenangan kontingennya setelah berjuang selama 2 jam dan 51,09 menit.

Perolehan medali emas SEA Games XVI tahun 1991 merupakan puncak capaian Maria.  Dua tahun sebelumnya di Kuala Lumpur, Maria menggenggam medali perak, di belakang sesama pelari Indonesia Suyati.

Dalam dua kali SEA Games sebelumnya yakni di Bangkok (1985)dan Jakarta (1987), Maria hanya meraih perunggu.  Di Bangkok, Ia didahului pelari Myanmar Weik Pan dan pelari Indonesia Tan Siu Chen. 

Begitulah Maria Lawalata.  Dengan pengalaman dua kali medali perunggu dan sekali medali perak, Maria akhirnya menggenggam emas justru pada saat-saat kritis.  Maria dielu-elukan sebagai pahlawan penyelamat Indonesia, sekaligus memupuskan ambisi Filipina untuk menjadi juara umum. 

Filipina harus menunggu selama 14 tahun, untuk menjadi tuan rumah penyelenggara SEA Games 2005.  Di bawah dorongan Presiden Gloria Macagapal Arroyo, Filipina berhasil menjadi juara umum. 

Merry Manuhutu sudah berpulang tahun 2011 sedangkan Maria Lawalata menikah dengan AKBP Aloysius Sunyoto.  Walau sudah pensiun sebagai atlet, Maria kini malah mengurus sepakbola junior dengan menggelar turnamen sepakbola. .

Tahun ini, pusat perhatian akan beralih ke Filipina.  Drama apa lagi yang akan terjadi di sana?  Semoga generasi baru dari Maluku Alvina Tehupeiory dan Wempy Pelamonia, sanggup membuat sejarah baru.  (Malukupost)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top