Ambon, Malukupost.com - Teluk Ambon terkena ledakan (blooming) fitoplankton beracun jenis Dinoflagelata Gonyaulax yang dapat mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen di perairan dan memicu kematian ikan.    Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI), Hanung Agus Mulyadi di Ambon, Jumat (11/1), mengatakan ledakan itu terjadi sejak Kamis (10/1) pagi, dengan luasan mencapai 31 hektare di perairan Desa Lateri dan Passo, Kecamatan Baguala hingga kawasan guru-guru, Poka, Kecamatan Teluk Ambon.
Ambon, Malukupost.com - Teluk Ambon terkena ledakan (blooming) fitoplankton beracun jenis Dinoflagelata Gonyaulax yang dapat mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen di perairan dan memicu kematian ikan.

Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI), Hanung Agus Mulyadi di Ambon, Jumat (11/1), mengatakan ledakan itu terjadi sejak Kamis (10/1) pagi, dengan luasan mencapai 31 hektare di perairan Desa Lateri dan Passo, Kecamatan Baguala hingga kawasan guru-guru, Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

Tingkat kepadatan ledakan terbilang tinggi, yakni 9x100 ribu sel per liter hingga 2,5x1000 juta sel per liter.

"Untuk kewaspadaan disampaikan kepada masyarakat adalah telah terjadi blooming selama dua hari, diperkirakan luasannya sekitar 31 hektare, lumayan luas untuk ukuran perairan," jelasnya.

Potensi kerugian yang diakibatkan oleh alga jenis ini termasuk yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan oxygen depletion atau berkurangnya kadar oksigen di perairan, sehingga bisa memicu kematian ikan.

Kendati sejauh ini belum ada laporan resmi terkait kematian ikan yang diakibatkan oleh ledakan Dinoflagelata Gonyaulax, warga diminta untuk waspada dengan tidak mengkonsumsi ikan-ikan yang mati mengambang di Teluk Ambon.

"Apakah kalau dikonsumsi ikannya berbahaya, secara teori fitoplankton beracun ini tidak akan rusak ketika dimasak, dibakar atau semacamnnya, racunnya masih tetap menempel di ikan," tambahnya.

Menurut dia, ledakan Dinoflagelata Gonyaulax di Teluk Ambon baru diketahui oleh pihaknya pada Kamis sore saat memantau kondisi perairan Teluk Ambon, dan menemukan terjadi perubahan warna air laut yang kecoklatan dan agak berlendir.

Sampelnya kemudian dianalisa di Laboratorium Fisika oleh tim peneliti yang terdiri dari Hanung Agus Mulyadi, Sem Likumahua, Salomy Hehakaya, La Imu, William Merphy Tatipata dan Muhammad Fadly.

"Tim balik lagi ambil sampling ternyata blooming sudah terjadi sejak kemarin sekitar jam 10.00 pagi menjelang siang, tapi kemarin kami tidak melakukan pelacakan area blooming jadi tidak tahu apakah memang luasannya memang 31 hektare sejak kemarin," ucapnya.

Menurutnya, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi ledakan Dinoflagellata Gonyaulax, di antaranya tingkat kesuburan dan ketersediaan oksigen di perairan. Sejauh ini hasil riset menunjukan kondisi perairan yang terkena ledakan berbeda jauh dengan di sekitarnya.

Temperatur permukaan area ledakan sebesar 30,9 derajat celcius, salinitas permukaan 30,5 psu dengan kelimpahan klorofil-a mencapai 30 hingga 50 miligram per meter kubik.

Sementara suhu permukaan area yang tidak terdampak adalah 31,1 derajat celcius, salinitas 32,1 psu dengan kandungan klorofil-a sebesar 0,50 hingga 0,62 miligram per meter kubik.

"Kelimpahan klorofil di lokasi blooming tinggi sekali, kisaran normalnya sekitar 0,2 hingga 0,4 miligram per meter kubik, tapi di sini sampai 50 miligram per kubik. Besok masih akan dipantau lagi oleh tim, apakah areanya semakin meluas atau semakin menipis," ujar Hanung. (MP-5)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top