Oleh: Nardi Maruapey    Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi yang pada prinsipnya memberikan kebebasan untuk berpendapat dan menentukan pilihannya secara bebas dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara, baik ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Sehingga pemilihan umum atau pemilu (Presiden, Gubernur, Bupati, Legislatif; DPR-DPRD-DPD) merupakan bentuk dan bagian dari sistem itu (baca: demokrasi). Pemilu adalah bagian dari demokrasi politik.

Oleh: Nardi Maruapey 


Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi yang pada prinsipnya memberikan kebebasan untuk berpendapat dan menentukan pilihannya secara bebas dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara, baik ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Sehingga pemilihan umum atau pemilu (Presiden, Gubernur, Bupati, Legislatif; DPR-DPRD-DPD) merupakan bentuk dan bagian dari sistem itu (baca: demokrasi). Pemilu adalah bagian dari demokrasi politik.

Pemilu harus dimaknai sebagai sarana untuk melihat kepentingan dan kemaslahatan banyak orang serta sebagai upaya untuk menatap masa depan daerah secara khusus, bangsa dan negara secara umum. Karena dengan begitu tujuan dari pemilu sebagai wujud dari demokrasi yang di maksud dapat terwujud dengan baik.

Mengutip Sarbaini dalam Demokratisasi dan Kebebasan Memilih dalam Pemilu bahwa tujuan pemilu adalah terpilihnya wakil rakyat dan terselenggaranya pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan pilihan rakyat. Pemilu yang tidak mampu mencapai tujuan itu hanya akan bersifat formalitas sebagai pemberian legitimasi bagi pemegang kekuasaan negara, pemilu demikian adalah pemilu yang kehilangan demokrasi.

Momentum pemilu harus dijadikan sebagai pesta demokrasi rakyat. Olehnya itu, rakyat sebagai ujung tombak pemilu harus dengan senang-gembira dalam menentukan pilihan politiknya. Begitu juga momentum pileg 2019 di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Artinya, rakyat Malteng juga harus dengan senang-gembira dalam menentukan pilihan politiknya di pileg 2019 ini.

Secara sederhana, pileg adalah peristiwa politik dimana ada rakyat yang memilih wakil rakyatnya untuk menyuarakan aspirasi rakyat di parlemen. Jadi, pileg itu rakyat memilih wakil rakyat.

Berapapun caleg yang sudah mendaftar tentu saja mereka mempunyai alasan yang logis untuk maju sebagai calon wakil rakyat.

Caleg Berkualitas


Setiap Pileg harus melahirkan calon legislatif (caleg) yang berkualitas dan itu adalah sebuah keharusan. Caleg yang berkualitas itu, Pertama, harus mengandalkan ide, kemampuan untuk menerjemahkan ide tersebut dan kemampuan untuk mengartikulasikan ide secara argumentatif.

Caleg yang baik tidak mengandalkan kemampuan jalan-jalan destruktif dalam politik. Ia tidak menempuh politik uang (money politics), kampanye negatif atau propaganda hitam untuk mencapai kekuasaan dan menjalankan agenda-agendanya. Pileg 2019 Malteng haruslah melahirkan para caleg macam itu.

Kedua, caleg yang berkualitas juga tidak membodoh-bodohi rakyat dan tidak memberikan rakyat harapan dengan janji-janji (PHP), karena dalam politik kita tidak mestinya berjanji tapi memberikan visi yang terlahir dari nalar dan cara berpikir kita dalam melihat realitas.

Ketiga, caleg yang berkualitas harus menomorsatukan kepentingan umat daripada kepentingan individu, kelompok maupun golongan. Pada prinsip rakyat mestinya menjadi alasan utama perjuangan panjang setiap caleg, dan yang paling terpenting jangan jadi caleg/anggota legislatif yang selalu ditekan oleh penguasa tapi harus ada sikap melawan penguasa demi mempertahankan integritas.

Penguasa harus dididik sebagaimana pesan Pramoedya Ananta Toer, bahwa "Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan".

Fakta Sosial


Dalam setiap narasi dan diskursus politik berbangsa dan bernegara, ini yang harus menjadi fokus pembahasan kita secara bersama, yakni masalah sosial sebagai gambaran tentang kondisi bernegara kita saat ini. Begitu juga masalah sosial atau fakta sosial yang ada di Malteng.

Pertama, Malteng adalah salah satu kabupaten yang ada di Pulau Seram, Pulau yang paling terbesar di Provinsi Maluku yang sangat banyak Sumber Daya Alam (SDA) terutama hasil rempah-rempahnya (cengkeh-pala) kelapa, dan tanaman lainnya, tetapi faktanya masyarakat Seram secara umum dan Malteng secara khusus belum merasakan dampak dari melimpah ruahnya kekayaan SDA yang ada.

Hemat saya, para elit dan pemangku kebijakan yang ada di daerah (baca: Malteng) masih belum menjadikan ini sebagai sebuah potensi besar untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi Malteng. Sehingga menjadi satu kewajaran pekerjaan sebagai petani bagi orang Maluku belum dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa.

Kedua, pelayanan dan fasilitas kesehatan yang belum memadai, baik itu di Kota, Kecamatan, apalagi di Desa-Desa. Masih kurangnya tenaga-tenaga kesehatan, dan pola rekrutmen tenaga kesehatan yang masih belum ideal di Rumah Sakit maupun Puskesmas di setiap desa di Malteng.

Sarana dan prasarana kesehatan sampai tahun 2012 di Kabupaten Maluku Tengah terdiri dari 4 buah rumah sakit, 149 buah Puskesmas yang terdiri dari 15 buah puskesmas menginap, 17 Puskesmas tanpa menginap dan 117 puskesmas pembantu. Jumlah tenaga kesehatan Tahun 2012 terdiri dari Dokter Umum 38 orang, Dokter Gigi 19 orang, Bidan 362 orang, Perawat Umum 379 orang dan Perawat Gigi 5 orang.

Ketiga, tingginya angka pengangguran yang tiap tahunnya terus mengalami peningkatan yang diakibatkan kurangnya lapangan kerja yang tersedia dan sistem penerimaan pegawai negeri yang masih mengedepankan akses dalam tanda kutip karena ada hubungan keluarga. Lihat saja, jumlah penduduk di Kabupaten Maluku Tengah yang merupakan angkatan kerja tahun 2010 sebanyak 146.439 jiwa terdiri dari penduduk yang bekerja 128.623 jiwa dan mencari pekerjaan (pengangguran) 17.816 jiwa,

Dan tentunya masih banyak lagi permasalahan yang ada. Dari sekian permasalahan dan fakta sosial inilah, mestinya setiap caleg harus menjadikan ini sebagai dasar gagasan dan perjuangannya untuk mendapatkan satu kursi di DPR.

Pilih Orang Lama atau Orang Baru


Inilah bagian yang bagi saya sangat penting dan substantif kenapa kita harus memberikan dan menentukan pilihan politik kita di pileg 2019 ini. Karena hasil terakhirnya adalah kita hanya bicara “siapa pilih siapa atau siapa coblos siapa”. Ya, pilih orang lama atau orang baru.

Pilihan untuk orang lama yang kita bisa melihat dan juga menilai melalui pengalaman (track record) mereka selama 5 tahun, atau memilih orang baru yang pastinya muncul dan hadir dengan sesuatu yang baru. Tentunya ini tergantung dari nalar kritis dan kecerdasan kita (baca: rakyat) dalam memilih caleg yang ada.

Paling tidak rakyat sebagai pemilih harusnya sudah punya pilihan-pilihan politik untuk setiap caleg, agar setiap isu negatif seperti politik identitas, SARA, dan Hoax yang berkembang bisa ditepis. Terakhir, jangan jadi golput karena golput adalah kecelakaan dalam berdemokrasi.

Penulis : Mahasiswa Unidar Ambon

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top