Dalam dunia yang semakin menyatu karena kecanggihan teknologi, nyaris tidak ada wilayah yang tidak terpengaruh dalam setiap perubahan global. Maluku tidak terkecuali, karena pasti terkena imbas baik langsung ataupun tidak langsung. Mari kita lihat beberapa persoalan global yang terjadi dewasa ini. Setidaknya, ada belasan tantangan global di abad 21 ini, mulai dari kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Oleh: Dipl.-Oek. Engelina H.L. Pattiasina


Dalam dunia yang semakin menyatu karena kecanggihan teknologi, nyaris tidak ada wilayah yang tidak terpengaruh dalam setiap perubahan global. Maluku tidak terkecuali, karena pasti terkena imbas baik langsung ataupun tidak langsung. Mari kita lihat beberapa persoalan global yang terjadi dewasa ini. Setidaknya, ada belasan tantangan global di abad 21 ini, mulai dari kemiskinan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Tapi, saya mau melihat dari sisi tantanan sumber daya alam (natural resources). Ada tiga masalah pokok di bidang sumber daya alam ini, yakni pangan, air dan energi. Semua negara akan berlomba untuk memenuhi pangan, air dan energi. Sebab, tanpa kemampuan ini negara berada dalam bahaya serius.

Sementara di satu sisi, pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, sudah ada yang memperkirakan penduduk dunia akan mencapai sekitar 9 miliar. Dewasa ini, penduduk bumi kalau tidak keliru sekitar tujuh miliar orang. Penambahan penduduk dunia ini tentu dengan sendirinya akan menimbulkan peningkatan kebutuhan pangan, air dan energi.

Kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup atau gaya hidup, sebenarnya disadari atau tidak, juga menimbulkan peningkatan kebutuhan pangan, air dan energi ini. Contoh sederhana begini, ketika ekonomi masyarakat makin baik, tentu akan membeli peralatan elektronik, mesin dan sebagainya. Semua itu juga membutuhkan energi listrik, misalnya.

Lantas apa kaitan dengan Maluku? Ini kan tidak terjadi di Maluku. Di sini, ada pangan di darat dan di laut, ada air. Apalagi, kalau ada teknologi untuk mengolah air laut. Begitu juga energi, Maluku memiliki kekayaan gas di Blok Masela dan masih ada puluhan blok Migas lainnya. Dengan kekayaan di Maluku dengan penduduk yang sangat sedikit, sebenarnya tidak ada masalah dengan tantangan yang disampaikan di depan. Tapi, tidak akan seperti itu. Sebelum saya lanjutkan, mari kita lihat di sekeliling kita.

Baru beberapa hari lalu, Presiden AS bertemu dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un di Vietnam. Ini adalah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di Singapura pada Juni 2018. Hal lain, kita lihat sampai saat ini, AS dan China masih terlibat dalam perang dagang. AS ingin pertahankan hegemoni, sementara China mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Semua ini mereka lakukan, bukan untuk membantu negara lain, tapi tetap untuk menjaga kepentingan nasional mereka. Apalagi China dan AS memiliki penduduk sangat besar.

Rebutan Laut China Selatan yang strategis dan konon memiliki kandungan kekayaan mineral yang tinggi juga menjadi sengketa yang bisa menaik kapan saja. China ingin mengklaim Laut China Selatan sebagai teritorinya, sementara negara di sekitarnya juga mengklaim memiliki wilayah di Luat China Selatan.

Persoalan di Laut China Selatan ini akan menjadi titik masalah yang sangat krusial, kalau semua negara ngotot dengan pendiriannya. Semua negara berusaha mencari kawan yang ujung-ujungnya sama-sama melindungi kepentingan sendiri.

Untuk itu, kita juga tidak tahu, sesungguhnya untuk apa keberadaan pasukan AL Amerika yang ditempatkan di Darwin. Beberapa tahun lalu, pasukan di AS di Darwin hanya ratusan orang, terus meningkat menjadi ribuan orang dan membuat pangkalan permanen di Darwin.

Ada banyak spekulasi, kalau pangkalan itu diperlukan untuk mengantisipasi keamanan kawasan. Kalau untuk mengantisipasi potensi ancaman di Laut China Selatan, sebenarnya AS sudah memiliki sekutu dan pangkalan militer yang ada di Jepang, Korea Selatan dan memiliki sekutu yang kuat.

Itu situasi di bagian barat kita. Sekarang mari kita lihat di bagian timur. Perlombaan pengaruh China dan Amerika juga sedang terjadi Pacifik. China melalui bantuan infrastruktur mencoba untuk menancapkan pengaruh yang kuat di Pasifik. Hal ini, tentu mengganggu pengaruh Amerika dan Australia di Kawasan ini.

Beberapa waktu lalu, bahkan berita hoaks mengenai rencana China membangun pangkalan militer di Vanuatu, menjadi isu yang ramai diperdebatkan meski semua itu hanya hoaks. Tapi, jangan meremehkan karena hal itu sebenarnya hanya untuk mengecek reaksi kalau akhirnya ada hal-hal seperti itu.

Semua perlombaan pengaruh yang “mengapit” kita sebenarnya hanya bermuara pada perebutan sumber daya alam, perebutan pasar dan semua itu untuk kepentingan negara mereka dalam memenuhi pangan dan energi. Semua perang di dunia tidak ada pemicu lain, kecuali perebutan sumber daya, terutama sumber daya alam.

Kalau sekarang mungkin sebatas perang dagang, tetapi yang kalah perang dagang, bukan mustahil akan memilih perang militer. Karena semua itu dilakukan untuk menjaga kepentingan negara mereka.

Dengan apa yang terjadi di sekeliling kita ini, maka Maluku yang memiliki potensi pangan darat dan laut, air dan energi yang melimpah akan menjadi sasaran. Tolong dicatat ini, energi dan pangan laut dari Maluku akan menjadi incaran pihak lain untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.

Maluku akan terkena imbas dari persoalan global. Semua akan berusaha mengambil energi dari Maluku. Dan gejala itu sangat kuat dan dilakukan dengan berbagai cara, yang seolah-olah sesuai dengan ketentuan, tetapi sesungguhnya merugikan Maluku sebagai wilayah penghasil ikan dan pemilik Blok Migas.

Mari kita bersama-sama mengawal dan meningkatkan kepedulian kita, karena ini semua tentang Maluku. Tentang anak cucu kita semua di masa depan. (bersambung)

Penulis adalah, Engelina H.L. Pattiasina,  Lulusan  Ekonomi Politik Universitas Bremen, Jerman.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top