Opini Costan Fatlolon-Manila

Refleksi Kehidupan Modern Menurut Filsafat Teknologi Jose Ortega Y Gasset


Beberapa waktu terakhir ini saya memperhatikan kembali postingan di laman FB milik saya dan milik teman-teman lain. Ada kategori postingan ilmiah-populer, puisi, dan berita yang mencerahkan pemikiran pembaca. Namun, ada pula kategori postingan lucu, setire, kecaman, dan makian.

Memperhatikan semua postingan itu, kadang saya tertawa karena lucu, tetapi kadang saya mengerutkan dahi karena kata-kata yang tidak pantas diungkapkan di “ruang publik tak berbatas” seperti ini. Anehnya, ungkapan-ungkapan itu diproduksikan secara sadar dan bebas oleh kaum dewasa, intelektual, bahkan oleh mereka yang tidak muda lagi menurut umur.

Merefleksikan semuanya itu terlintas sebuah pertanyaan sederhana: “Dunia modern macam apakah yang kita huni saat ini?” Pertanyaan ini mengantar saya memasuki skema pemikiran filsuf dan sastrawan Spanyol Jose Ortega Y Gasset mengenai dunia teknologi modern yang kekanak-kanakan.

PROFIL JOSE ORTEGA Y GASSET
Jose Ortega Y Gasset lahir di Madrid 9 Mei 1883 dan meninggal 18 Oktober 1955. Ia mengenyam pendidikan di beberapa universitas Yesuit dan mendapatkan gelar doctor di Universitas Madrid tahun 1904. Karya-karyanya sangat dipengaruhi oleh filsafat neo-kantian dan fenomenologi, khususnya George Simmel, Herman Cohen dan Paul Gerhard Natorp. Ia dikenal luas sebagai penulis, pengajar, filsuf, pengarah politik, dan sosiolog kreatif. Pemikiran-pemikiran Ortega sangat berpengaruh terhadap budaya dan sastra Spanyol abad 20. Pada tahun 1936, ia diangkat menjadi professor metafisika di Universitas Madrid, Spanyol.

TEKNOLOGI ADALAH HAKIKAT MANUSIA
Para ahli memperkirakan sekitar 40% dari pekerjaan yang dilakukan oleh manusia akan segera berubah menjadi pekerjaan mesin. Teknologi kecerdasan buatan terus lebih hidup menggantikan posisi manusia. Lalu, dunia teknologi macam apakah yang kita hidupi saat ini?

Dalam karyanya Meditacion de la Tecnica y otros Ensayos Sobre Ciencia y Filosofia atau “A Meditation on Technique and other Essays about Science and Philosophy (Alianza Editorial Sa; Revised edition, June 30, 2004), Gesset mengungkapkan bahwa teknologi pada hakikatnya adalah usaha manusia untuk mengadaptasikan lingkungan dengan dirinya sendiri. Teknologi sebagai adaptasi lingkungan harus memberikan kesejahteraan kepada manusia dan bukan sebaliknya menggantikan manusia. Dalam perkataan Gasset sendiri:

“Teknologi adalah adaptasi dari lingkungan (manusia) kepada individu ... untuk bereaksi terhadap lingkungannya, bukan untuk mengundurkan diri dari dunia sebagaimana adanya – yang adalah esensi manusia.”

Bagi Gasset, definisi teknologi ini sebenarnya tidak terbatas hanya pada perangkat komputer, handphone, sebagaimana kaum milineal alami saat ini. Secara sederhana, ia menyebut korek api, peralatan berburu, mobil, pemanas dan pendingin ruangan, adalah juga teknologi. Pokoknya, teknologi adalah cara manusia mengubah lingkungan sekitarnya untuk mencapai hidup yang lebih manusiawi dan sejahtera.

Mengapa Gasset mengatakan teknologi adalah hakikat manusia? Karena menurut Gasset,  melalui teknologi manusia mampu menyatakan dirinya berbeda dengan makluk hidup yang lain. Ia mengatakan:

“Namun ini sudah pasti; binatang, ketika ia tidak dapat memenuhi kebutuhan vitalnya - ketika tidak ada api atau gua misalnya - tidak berbuat apa-apa dan membiarkan dirinya mati. Manusia, sebaliknya; tampil dengan jenis kegiatan baru, ia menghasilkan apa yang tidak ia temukan di alam, entah karena tidak ada sama sekali atau karena tidak ada saat ia membutuhkannya.”

Dengan pernyataan ini, Gasset menekankan aspek kreativitas manusia berhadapan dengan alam lingkungan. Manusia adalah makluk rasional sekaligus makluk kreatif yang mampu “menciptakan” kebaruan bagi kebutuhan dan kesejahteraan hidupnya.

Lebih, dari itu, menurut Gasset, teknologi adalah esensi manusia karena manusia tidak dilahirkan dengan semua hal yang ia butuhkan untuk menjadi dirinya sendiri. Apakah arti perkataan ini. Marilah kita melihat sebuah contoh. Seekor binatang, katakanlah beruang, dilahirkan dengan segala yang ia butuhkan untuk menjadi beruang. Seekor beruang terlahir sebagai beruang, akan tetap menjadi beruang. Ketika beruang lahir, ia telah dipersiapkan oleh alam untuk bisa berjalan tertatih-tatih, dan alam menyediakan segala yang dibutuhkannya untuk menjadi beruang (https://www.intellectualtakeout.org/article/ortega-y-gassset-technology-essence-man).

Keadaan hewani di atas, kata Gasset, sangat berbeda dengan keberadaan manusia. Profesor metafisika ini menjelaskan: “(Manusia) diberikan kemungkinan keberadaan yang abstrak, tetapi bukan realitas keberadaan ... Keberadaan berarti proses mewujudkan, dalam arti tertentu, cita-cita kita.”

Keberadaan manusia, dalam arti ini, adalah sebuah proses mewujudkan cita-cita. Artinya, manusia dilahirkan dengan potensi-potensi untuk diwujudnyatakan dalam perjalanan hidupnya. Dalam Bahasa Aristoteles, manusia adalah “actus in potentia” atau kemungkinan-kemungkinan untuk dinyatakan dalam tindakan. Tindakan manusia adalah aktualisasi dari kemungkinan-kemungkinan atau cita-cita itu.

Nah, teknologi adalah salah satu bentuk realisasi atau aktualitas dari kemungkinan yang dimiliki oleh manusia. Maka Gasset berani menyebut bahwa teknologi adalah hakikat manusia. Sebagai hakikat manusia, teknologi harus mampu melayani manusia untuk merealisasikan dirinya. Teknologi dapat membantu mengekspresikan kemanusiaan kita.

DUNIA TEKNOLOGI MODERN: KEKANAK-KANAKAN
Kalau kita melihat fenomena penggunaan alat-alat komunikasi modern saat ini, kita bisa bertanya: Apakah kemajuan teknologi dalam masyarakat saat ini membantu kita untuk merealisasikan esensi kita sebagai manusia, atau sebaliknya teknologi membuat kita tergantung padanya?

Gasset mengungkapkan bahwa budaya modern telah kehilangan vitalitas kreatifnya bersama dengan lahirnya kekuatan indra pengarahannya. Manusia modern, kemudian terseret ke dalam sebuah khayalan teknologis yang menyesatkan dirinya sendiri di tengah kelimpahan. Ia mengungkapkan:

“Kehidupan modern adalah suatu masa ketika manusia percaya bahwa dirinya mampu menciptakan, tetapi dia tidak tahu apa yang harus diciptakan. Tuhan segala sesuatu, dia bukan penguasa bagi dirinya sendiri. Dia merasa tersesat di tengah kelimpahannya sendiri. Dengan lebih banyak cara yang tersedia, lebih banyak pengetahuan, lebih banyak teknik dari sebelumnya, ternyata dunia saat ini berjalan dengan cara yang sama dengan dunia terburuk yang pernah ada; itu hanya khayalan. Oleh karena itu, kombinasi aneh antara rasa kekuasaan dan rasa tidak aman yang telah mengambil tempat di jiwa manusia modern.” (https://plato.stanford.edu/entries/gasset/).

Inti dari pernyataan Gesset adalah manusia yang hidup dalam kelimpahan teknologi modern telah kehilangan dimensi kreativitasnya. Ia terseret dalam kelimpahan hasil ciptaannya sendiri sedemikian rupa sehingga tak lagi mampu menggunakan teknologi untuk merealisasikan kemanusiaannya. Ia hanyut dalam budaya teknologi modern yang dikuasi oleh sekelompok kecil orang sedemikian rupa sehingga manusia modern kehilangan rasionalitas dan tanggung jawab terhadap keutuhan masyarakat banyak.

Dewasa ini, kita menyaksikan munculnya banyak ujaran-ujaran kebencian, cacian, makian, dan sebagainya di dunia daring. Munculnya pula kabar bohong yang mengakibatkan keributan, ketakutan, ancaman, pesimisme dan lain sebagainya. Apakah arti semuanya ini? Menurut Gesset, semuanya ini telah menjadi bukti hilangnya sikap kritis manusia terhadap teknologi yang diciptakannya sendiri.

Akibat dari semuanya itu adalah manusia dinilai atau direduksikan sebagai tatanan biologis atau biografis semata. Penilaian buruk dan baik seseorang kemudian direduksikan pada indera penglihatan melalui apa yang dipublikasikan di ruang maya.

Menghadapi semua itu, Gesset mengungkapkan bahwa dunia modern yang ditandai oleh teknologi modern adalah dunia kekanak-kanakan. Mengapa? Karena budaya teknologi modern telah membawa akibat yang mencelakakan individu sebagai makluk rasional dan bertangungjawab.

“Dikondisikan oleh kelimpahan, banyak orang menikmati kenyamanan mereka begitu saja dan, seperti anak-anak manja, membuat ulah atas terhadap nasihat untuk menahan diri. Merusak [bagi mereka] berarti tidak membatasi tingkah tertentu, untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu diizinkan baginya dan bahwa ia tidak memiliki kewajiban.”

Dengan kata lain, dunia teknologi modern adalah dunia kekanak-kanakan karena individu-individu dalam dunia ini sangat bersifat permisif dan tak terkendali. Sebagian besar warga daring melawan wejangan dan nasihat pihak berwajib, misalnya kepolisian, untuk tidak menyebarkan kabar bohong.

Bagaikan anak-anak, sebagian lagi merasakan tidak memiliki kewajiban moral untuk tidak menyebarkan gambar-gambar yang tidak elok di dunia maya. Bagaikan anak-anak, sebagian lagi, dengan bebas melaksanakan aktivitas daring yang bersifat tidak senonoh tanpa rasa bersalah dan malu. Sebagian dari kita, benar-benar hidup dalam sebuah dunia yang kekanak-kanakan.

Sebagian orang dewasa mengungkapkan aspek kekanak-kanakan itu melalui kata-kata, gambar-gambar dan video-video lucu. Ada pula sebagian yang mengungkapkan aspek kekanan-kanakan itu dengan menggaet sebanyak mungkin teman yang masih terhitung sebagai anak muda cantik dan tampan. Ada pula sebagian yang saling membalas chatting dengan rekan melalui kata-kata romantis tetapi juga menohok.

Dalam karyanya Person and Self-Value: Three Essays (with an introduction, edited and partial translated by M.S. Frings. Boston: Martinus Nijhoff Publishers, 1987), filsuf fenomenologi Jerman Max Scheler, menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai kategori terendah menurut tatanan nilai. Karakter utama dari individu-individu yang terlibat di dalamnya tak lain adalah “kenikmatan dan kesenangan” (enjoyments and pleasure). Mereka menjadi “tuan” dalam “seni penguasaan kehidupan” karena mereka mampu secara konsisten mengubah semua hal menjadi obyek kesenangan dan kenikmatan. Mereka lebih tertarik pada prinsip-prinsip kehendak sensual sebagai maxim individual (hlm. 197). Pribadi-pribadi sedemikian oleh Scheler disebut sebagai “seorang cucu” (a grandchild) dari “seni penguasaan kehidupan” modern (hlm. 197-198).

MENGHIDUPI IDENTITAS DALAM TINDAKAN
Lalu apakah yang harus kita lakukan untuk menjaga hakikat diri kita sebagai makluk rasional dan bermoral?

Secara metafisik, Gesset mengungkapkan bahwa manusia bukanlah benda atau ego yang abstrak. Elemen dasariah manusia yang riil adalah “hidup saya” dalam tindakan nyata. Dalam istilah Max Scheller, manusia ditentukan oleh tindakannya, atau meminjam istilah filsuf Carol Waytila, Paus Yohanes Paulus II, manusia adalah “person yang bertindak” (acting person). Melalui tindakan, manusia merealisasikan jati dirinya dengan mengubah lingkungan atau teknologi bagi kesejahteraan hidupnya.

Apakah itu hidup? Kata Gesset, “Hidup adalah apa yang kita lakukan dan apa yang terjadi terhadap diri kita. Hidup berarti berhadapan dengan dunia, tertuju kepada dunia, dan hidup dengannya.” Dalam karyanya “Meditations on Quixote” (1914), Gesset mengatakan, hidup dalam dunia berarti menyelamatkan diri sendiri dan dunia. “Saya dan lingkungan, dan jika saya tidak menyelamatkan lingkungan saya, saya tidak menyelamatkan diri sendiri” (https://www.encyclopedia.com/people/philosophy-and-religion/philosophy-biographies/jose-ortega-y-gasset).

Bagi Gesset, hidup ini adalah sebuah pemberian. Hidup itu pada dasarnya “diberikan” (given), bukan dijadikan (made). Artinya, manusia harus mengaktualisasikan hidup itu dalam tindakan yang nyata. Ego adalah proyek vital sementara lingkungan hidup atau teknologi adalah kumpulan kemungkinan-kemungkinan (repertoty of possibility) yang mengharuskan pilihan dan menjustifikasi pilihan saya sebagai subyek yang rasional, otonom dan bertanggung jawab.

Gesset kemudian memberikan peringatan kepada manusia modern, katanya:

“Barang siapa tidak merasakan bahaya dari zaman yang ada di bawah tangannya, tidak sugguh-sungguh memasuki takdir-takdir vital, ia sebenarnya hanya mencakar pada permukaannya.”

Peringatan Gesset ini, secara fenomenologis, menyatakan pentingnya manusia modern membentuk dirinya menjadi pribadi-pribadi rasional dan bermoral yang memimpin kebudayaan modern. Dalam bahasa Max Scheler, manusia modern harus menjadi “sang otak yang memimpin kebudayaan” (the leading mind of civilization).

Scheler mendefinisikan istilah tersebut sebagai para individu-individu yang dicirikhaskan oleh “kewajiban untuk menghendaki kemajuan” (ough to will progress) [hlm. 194]. Seluruh hidup dan karya mereka dituntun oleh “cinta akan umat manusia” (love for humankind). Salah satu figur yang disebut Scheler adalah para teknokrat (technologists) [Idem].

Menurut Scheler, para teknokrat adalah para pemimpin yang bekerja dalam bidang teknologi di semua area dengan bantuan sarana-sarana dan kemampuan demi kebebasan peradaban manusia. Mereka bekerja dengan tujuan utama menemukan cara-cara dan bentuk-bentuk baru untuk kebutuhan manusia.

Untuk itu mereka harus dituntun oleh kehendak untuk menyejahterakan umat manusia daripada mengantarnya ke dalam kesulitan hidup. Mereka harus menjadi “manusia teladan” (exemplary person) yang dituntun oleh moralitas daripada sekadar kehendak untuk mencari keuntungan. Mereka harus mampu menunjukkan contoh bagi warga masyarakat modern tentang bagaimana menggunakan teknologi sebagai sarana pembebasan manusia bukan sarana yang memperalat manusia.

Teknologi modern memang tak terhindarkan bagi manusia modern dewasa ini. Gesset mengingatkan agar manusia modern harus membayangkan dan memikirkan hidup dan aktivitas dengan kemampuan rasionya sendiri. Manusia modern harus mampu menggunakan akal budi ketika mengoperasikan handphone, komputer, facebook, dan lain sebagainya sehingga tidak jatuh dalam bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Kemampuan menggunakan akal budi secara bijaksana di tengah dunia teknologi modern adalah sebuah prasyarat utama bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Dengan berpikir secara rasional, orang modern akan mampu menggunakan sarana-sarana teknologi modern untuk mewartakan kebaikan dan mengarahkan orang lain untuk hidup secara layak.

Jadi, kata Gesset, kehidupan teknologi modern sendirilah yang membuka kemungkinan untuk memahami bahwa segala sesuatu memiliki fungsi dalam kehidupan. Semua sarana teknologi modern seperti handphone, komputer, senjata, alat pertanian, teknologi daring seperti facebook, berguna sejauh digunakan manusia untuk mensejahterakan dan membahagiakan hidupnya.

Semua yang dikatakan di atas adalah tawaran pemikiran filosof yang masih terbuka terhadap diskursus kritis untuk semakin membantu hidup kita yang lebih berkualitas. Sebab, kata Sokrates, hidup yang tidak direfleksikan tak layak untuk dihidupi.

Salvador st., Manila, 11 Januari 2019

Penulis adalah mahasiswa pada Departemen Filsafat Ateneo de Manila University

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top