Ambon, Malukupost.com - Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM) beberapa waktu lalu telah mencanangkan penanam 1000 pohon di pulau romang. upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kelestarian dan potensi unggulan masyarakat yang telah rusak akibat aktifitas pertambangan oleh PT.Gemala Borneo Utama (GBU).  1000 pohon yang dicanangkan terdiri dari Pohon Pala, Pohon cengkeh dan pohon Kelapa yang menjadi komoditi unggulan masyarakat Pulau Romang. Hal ini disampaikan Ketua LKLM Consta,  Kamis (4/5) di Ambon.
Ambon, Malukupost.com - Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku (LKLM) beberapa waktu lalu telah mencanangkan penanam 1000 pohon di pulau romang. upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kelestarian dan potensi unggulan masyarakat yang telah rusak akibat aktifitas pertambangan oleh PT.Gemala Borneo Utama (GBU).

1000 pohon yang dicanangkan terdiri dari Pohon Pala, Pohon cengkeh dan pohon Kelapa yang menjadi komoditi unggulan masyarakat Pulau Romang. Hal ini disampaikan Ketua LKLM Costan,  Kamis (4/5) di Ambon.

Menurut Costan, berdasarkan hasil investigasi LKLM bersama Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Maluku pada 29 April lalu mendapatkan kondisi lingkungan pulau Romang telah tercemar oleh kandungan mercury hasil olahan tambang dari PT GBU.

"Kerusakan yang diakibatkan kandungan mercury di pulau romang telah merambat ke tanaman komoditi produksi yang menjadi sumber pendapatan masyarakat tani," jelasnya.

Dijelaskan Costan, daerah aliran sungai (DAS) di pulau romang berdekatan langsung dengan wilayah tambang, sehingga DAS tersebut akan menjadi jalur sedimentasi tanah yang bercampur dengan kandungan mercury dan dapat merusak ekosistem alam yang ada di pulau tersebut. Selain itu kerusakan alam yang terjadi juga merupakan akibat kecerobohan elit intelektual di Universitas Pattimura (Unppati) yang diduga telah mengeluarkan hasil Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) bagi PT GBU tanpa melakukan penelitian.

"Karena itu LKLM akan menyurati Menteri pendidikan dan perguruan tinggi untuk menegur pihak Unpatti khusus pada profesor dan doktor yang turut terlibat dalam membuat dokumen amdal roman yang disinyalir ada semacam rekayasa yang dimainkan oleh elit-elit intelektual yang diminta oleh GBU," tandasnya

Costan katakan, identitas pulau romang dimana komoditi unggulannya adalah ketiga tanaman tersebut sehingga tambang bukan solusi atas kecitraan masyarakat.

"berdasarkan hasil investigasi kami, satu keluarga mampu menghasilkan satu sampai dua ton tanaman produksi kelapa dalam satu musim. Artinya dengan harga kopra yang saat ini mencapai Rp7000 hingga Rp8000 maka sudah tentu dalam satu musim satu keluarga sudah mampu menghasilkan Rp7 juta sampai Rp8 juta," paparnya.

Costan menambahkan, dengan demikian kopra dapat menjadi jaminan hidup bagi masyarakat bukan hasil tambang, karena itu masyarakat berpendapat bahwa tambang bukanlah sumber kesejahteraan tetapi menjadi sumber malapetaka. Karena itu, LKLM sebagai lembaga yang pro lingkungan hidup dengan tegas menolak aktifitas tambang baik yang bersifat sementara maupun tambang jangka panjang sebagai tambang rakyat.

"Kami juga mau menyampaikan kepada Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat terkhususnya tim independen yang telah melakukan penelitian di pulau romang agar berhati-hati dalam mengeluarkan surat keputusan kandungan mercury di Romang. Karena hal ini akan berdampak buruk kelangsungan hidup masyarakat Pulau Romang," pungkasnya. (MP-8)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top