Ribuan Umat Katolik Hadiri Pemakaman Uskup Sol


Ambon, Maluku Post.com - Ribuan umat kristen katolik di Maluku merasakan kehilangan saat prosesi pemakaman Uskup asal Belanda, Mgr. Andreas Peter Cornelius Sol, di Ambon, Kamis (31/3).

Ribuan umat katolik datang dari berbagai kota dan kabupaten di Maluku untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Uskup Emiritus Amboina yang meninggal di usia di usia 100 tahun lima bulan lima hari pada 26 Maret 2016.

Umat katolik mengikuti misa pemakaman uskup tertua di Maluku di Gereja Katedral Ambon sebelum dimakamkan di tempat pemakaman susteran PBHK, Ahuru, kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Misa pemakaman uskup Sol dihadiri sejumlah Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, Pangdam XVI Pattimura Mayjen Doni Munardo, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy dan sejumlah pimpinan SKPD di provinsi maupun kabupaten kota di Maluku.

Uskup Sol lahir di Amsterdam-Sloten, Belanda pada 19 Oktober 1915 dari pasangan Cornelius Johannes Sol dan Maria Anna Elisabeth Ruhe dan pada 20 Oktober 1915 dibaptis di Gereja paroki Nicolaas en Barbara, Amsterdam.

Sebagai imam muda Andreas Sol memilih berkarya di Brasil, tetapi batal berangkat ke Brasil karena Perang Dunia II.

Setelah perang berakhir uskup mendapat tawaran bertugas di Indonesia, suatu penugasan yang diterimanya dengan penuh ketaatan.

Uskup Sol tiba di Maluku pada 5 Oktober 1946. Oleh Mgr Jacobus Grent, MSC, yang saat itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik Amboina imam muda Andreas Sol MSC diangkat menjadi pastor paroki Hollat-Haar, Kei Besar, yang dijalaninya pada 1946 - 1949.

Selanjutnya terpilih menjadi Uskup di Keuskupan Amboina pada tanggal 10 Desember 1963. Ia ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Februari 1964.

Mgr. Sol pensiun pada 10 Januari 1994 dan kepemimpinan Keuskupan Amboina dilanjutkan oleh Mgr. Petrus Canisius Mandagi.

Sebagai imam muda Andreas Sol memilih berkarya di Brasil, sehingga ia giat mempelajari bahasa Portugis, tetapi beliau batal diberangkatkan ke sana karena pecah Perang Dunia II.

Setelah perang mereda dia malah ditawari bertugas di Indonesia, suatu penugasan yang diterimanya dengan penuh ketaatan.

Sejak jadi imam hingga menjadi uskup dan pensiun (emeritus) uskup Sol tetap hidup melayani dan berkarya di Maluku.

Seluruh perjalanan hidup dan pelayanan baik kelahiran, HUT sebagai biarawan MSC, HUT sebagai Imam, bahkan tahbisan Episkopat seluruhnya dilakukan di Maluku.

Selain melayani umat dan masyarakat dalam bidang rohani, karya misionernya diarahkan pada bidang pendidikan dan kesehatan.

Ia mendirikan dan mengelola sekolah-sekolah serta panti asuhan, memberikan adopsi bagi ribuan anak-anak miskin untuk bisa menikmati pendidikan. (MP-6)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Malukupost.com © 2015. All Rights Reserved.
Top